SAMBIROTO.NGAWIKAB.ID- Mewabahnya pandemi virus corona (Covid-19) tidak menyurutkan semangat petani di desa Sambiroto. Bulir padi telah menguning, saatnya mereka memanen jerih payah dan kesabaran mereka setelah empat bulan.

Musim tanam pertama di desa Sambiroto dimulai akhir desember tahun lalu. Saat itu belum diketemukan kasus pertama positif Covid-19 di Indonesia, namun sudah menjangkit di Wuhan-China.

Ibarat pepatah “Life must go on”, hidup tetap harus berjalan terus. Rasa kuatir dan was-was yang menghantui akibat semakin meluasnya penyebaran virus corona serta merta terkalahkan tatkala melihat hamparan kuning keemasan di sawah-sawah mereka. Bagaimana tidak, semua kebutuhan sehari-hari mereka gantungkan pada hasil panen musim ini.

Relatif sama dengan desa-desa lain di wilayah kabupaten Ngawi, padi masih menjadi komoditi utama para petani di desa Sambiroto. Selain untuk memenuhi  konsumsi sendiri hasil panen mereka jual untuk kebutuhan sehari-hari dan digunakan biaya mengolah lahan musim tanam berikutnya.

Secara umum, jika dibuat perbandingan maka lebih banyak yang mereka jual daripada yang dikonsumsi sendiri. Tak heran jika kabupaten Ngawi menjadi lumbung pangan nasional karena produksinya surplus.

Tak jarang cerita duka terucap dari mulut mereka. Beberapa diantaranya mengeluhkan gagal panen akibat cuaca dan serangan hama, biaya produksi yang tinggi akibat lahan persawahan yang kekurangan pasokan air dan obat-obatan yang mahal. Diawal musim tanam pertama ini curah hujan memang sangat kecil sedangkan mereka tidak bisa mengandalkan air dari aliran bendungan “Pondok” akibat debit air sedikit. Meski begitu mereka tak sudi untuk menyerah demi keluarga.

Baca juga :

Dampak Covid-19 Dispenduk Capil Ngawi Himbau Masyarakat Tunda Pengurusan Dokumen Kependudukan

Diskominfo Perkenalkan ZOOM Sebagai Komunikasi Alternatif Di Tengah Pandemi Covid-19

Pemanfaatan Alsintan Combine Harvester Untuk Memanen Padi

Panen raya kali ini, padi yang dipanen menggunakan alat perontok padi rakitan sendiri dihargai Rp. 3.500,- sampai dengan Rp. 3.700,- per-kilogram, sedangkan padi yang dipanen menggunakan alat mesin pertanian (alsintan) seperti combine harvester dihargai Rp. 4.500,- sampai dengan Rp. 4.600,- per-kilogram.

Dalam kondisi seperti saat ini mereka bukan pahlawan di garda terdepan dalam perang melawan pandemi Covid-19, namun mereka adalah pahlawan pangan dengan segala kerendahan hatinya demi mencukupi kebutuhan pangan nasional. Maka tetap berbanggalah mereka yang menjadi petani.