SAMBIROTO.NGAWIKAB.ID- Jalan hidup manusia tidak ada yang pernah tahu. Semua mengalir sesuai kehendak Sang Pencipta alam raya. Kekurangan dan kelebihan telah diatur sedemikian indahnya hingga menjadikan dunia penuh warna.

Kelebihan bukan alat bagi kita untuk bersikap jumawah dan menyombongkan diri. Justru kelebihan menjadikan kita mengasah empati. Disisi lain, kekurangan bukan halangan untuk tetap menjalani hidup ini. Semua kempali pada pilihan kita, mau mensyukuri apa yang kita miliki saat ini, ataukah hanya menggerutu menyesali keadaan.

Seperti halnya seseorang yang saya temui saat itu. Sosok sederhana dan apa adanya. Kisah beliau dapat menjadi cerminan dan inspirasi bagi kita bagaimana mensyukuri hidup, bekerja keras dan tak menyerah dengan keadaan.

Mbah Ngalimin (80 tahun) bersama sang istri tercinta Suminem (72 tahun) tinggal di rumah sederhana RT 001/002 Desa Sambiroto Kecamatan Padas Kabupaten Ngawi

Beliau bernama Ngalimin, warga Desa Sambiroto RT 001/002. Pria kelahiran Ngawi, tahun 1940 tersebut tinggal berdua dirumah sederahana bersama sang istri tercinta, Suminem (72 tahun). Pasangan ini telah dikaruniai 4 orang anak yang telah berumah tangga dan hidup terpisah dari mereka. Keluarga ini tercatat sebagai penerima program PKH Kementerian sosial sejak 2018.

Ngalimin adalah seorang pedagang pisang di pasar. Kesehariannya dilalui dengan bersepeda berkeliling desa mencari pohon pisang yang tumbuh di pekarangan warga untuk dibeli buahnya. Buah pisang yang telah terkumpul ia simpan untuk diproses hingga matang. Setelah dirasa cukup, mbah Ngalimin-pun menjualnya ke pasar. Hebatnya mbah Ngalimin menjajakan dagangannya sampai ke pasar Caruban.

Tekun Dan Pekerja Keras

Mbah Ngalimin berangkat ke pasar di tengah malam dengan menuntun sepedanya

Berangkat di tengah malam, mbah Ngalimin dibantu sang istri mengemas dagangannya dalam sebuah keranjang bambu yang dilapisi daun pisang/zak, untuk menjaga agar buah pisang yang ia jual tidak rusak. Keranjang tersebut diletakkan di boncengan sepedanya. Bisa dibayangkan seberapa banyak dagangannya dibandingkan jarak yang harus ia tempuh ke pasar.

Di usianya yang 80 tahun, tenaga dan pengelihatannya sudah jauh berkurang. Menyusuri jalan desa ditengah malam dengan bersepeda bukan hal yang mudah baginya. Mbah Ngalimin harus berjuang menuntun sepedanya sejauh 700 meter hingga bertemu jalan aspal Waduk Pondok. Ketika sampai di jalan beraspal baru dikayuhlah sepedanya menuju simpang empat Kedungprahu.

Mbah Ngalimin masih harus menunggu bus menjemputnya. Tidak selesai sampai disitu, bus yang menjadi langganannya tersebut tidak langsung membawanya pergi ke pasar Caruban, namun masih harus menjemput pedagang lain di daerah lain, bahkan sampai ke Paron. Ternyata selain berdagang pisang, mbah Ngalimin masih mencari tambahan penghasilan dengan membantu sopir mengangkut dagangan pedagang dari daerah lain untuk dimasukkan ke dalam bus dan dibawa ke pasar Caruban.

Mbah Ngalimin didampingi sang istri menceritakan kisah hidupnya

Tak tanggung-tanggung, 63 tahun sudah dirinya menekuni profesi tersebut. Hidup yang dijalaninya mengalir begitu saja tanpa banyak mengeluh, tanpa menggantungkan belas kasihan tetangga, bahkan anak-anaknya.

Dari sosok Ngalimin kita belajar mensyukuri hidup, belajar gigih, tekun, semangat untuk bekerja keras dan pantang menyerah dengan keadaan meski di usia senja. Selagi Tuhan memberikan kesempatan kita untuk hidup, sejauh itulah Tuhan mencukupkan rahmat-Nya bagi kita.

Baca juga :